Monday, June 17, 2019

Korban 22 Mei Meninggal karena Peluru Tajam

Konsekuensi dari markas besar Polisi Nasional pemeriksaan post-mortem menegaskan bahwa empat dari sembilan kematian dalam kerusuhan 22 Mei menendang ember dari dipukul oleh amunisi hidup.

Hal ini diungkapkan oleh kepala bagian Informasi Umum (KaBag Penum) Divisi hubungan masyarakat Polri, Komisioner senior Asep Adi Saputra.

 "Sebuah pemeriksaan post-mortem telah selesai, empat korban yang jelas Malang menendang ember dari amunisi hidup, " kata Asep di markas besar kepolisian nasional, Senin (17/6).

Asep mengatakan empat korban Malang menendang ember dari amunisi hidup berlalu dari tembakan soliter.

Pemeriksa telah diverifikasi dua tembakan untuk tes balistik berikut. Hal ini dievaluasi bahwa hasil tes balistik akan berubah dalam kurang dari satu bulan.

 "Bidikan diambil dari aneka macam korban jiwa rayhan dan Abdul Aziz, pada saat itu satu dari Zulkifli. Tidak sampai satu bulan hasil tes balistik diandalkan untuk berubah,  "katanya.

Alasan kematian yang lain lima korban Malang adalah sebagai belum yakin. Namun, salah satu dari mereka konon berlalu karena kejam dengan item tumpul.

 "Pada saat itu lima, empat dari mereka ditunjukkan untuk menendang ember karena amunisi hidup, dan yang lain berlalu karena kebrutalan kekuasaan tumpul, " katanya.

Asep mengatakan alasan untuk lulus dari lima individu tidak dapat ditentukan atas dasar bahwa pemeriksaan belum selesai. Kelima orang itu baru saja keluar setelah proses kematian oleh klinik darurat.

 "Untuk memastikan, lima belum pemeriksaan sejak mereka secara tegas diambil oleh keluarga, " katanya.

Kemudian lagi, Asep mengatakan pihaknya juga tahu wilayah pengungkapan lima orang tewas dieksploitasi.

 "Seluruh adalah di distrik Petamburan, yang empat masih selama waktu yang dihabiskan untuk mengembangkan," kata Asep.

Sebelumnya, Ketua Komisi Nasional hak asasi manusia (Komnas HAM) Ahmad taufan Damanik mengatakan dua dari delapan orang yang disembelih di gempar di sekitar Gedung Badan Pengawas pemilu (Bawaslu) RI pada 21-22 Mei 2019 itu ditegaskan karena hidup amunisi.

Dia juga meminta para ahli untuk cepat menemukan dan menangkap pelaku yang dihentikan amunisi hidup.

 "Anda perlu menemukan siapa yang menembak amunisi hidup sejak fakta sebelumnya menunjukkan bahwa delapan dari mereka disembelih ditembak, empat adalah post-mortem pemeriksaan dan hanya dua ditemukan siput. Saya pikir semua orang dapat menerima bahwa itu harus karena hidup amunisi,  "taufan mengatakan di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Kamis (13/6).